Tampil Memukau, Penampilan Etnis Bajau Mencuri Perhatian Penonton, Peserta Terbanyak di Kirab Budaya Perdana Konawe Kepulauan
- account_circle Redaksi POSBI News
- calendar_month 30 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Barisan etnis Bajau membawa panji kebesaran suku Bajau Ula'-Ula
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) sukses menggelar Kirab Budaya pada Rabu (20/5/2026). Kirab Budaya ini adalah yang pertama kalinya sejak berdiri sebagai daerah otonomi baru, 13 tahun lalu. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pergelaran Wonderful Wawonii untuk memperingati HUT ke-13 Kabupaten Konawe Kepulauan.
Iring-iringan kirab budaya Parade Kalapaya dipimpin langsung oleh Bupati Konawe Kepulauan, Rifqi Saifullah Razak, bersama Ketua TP PKK Konkep, Ucha Nidya Ramadhani Rifqi. Bupati Rifqi tampil gagah mengenakan kemeja tenun dan penutup kepala bermotif kelapa khas Wawonii. Sementara sang istri tampil elegan mengenakan pakaian adat berwarna hijau daun, dengan dominan ornamen keemasan.
Diberi nama Kirab Budaya Kalapaya karena masing-masing barisan mengarak kalapaya, wadah penampung makanan tradisional masyarakat Wawonii yang terbuat dari pelepah sagu berfungsi sebagai sarana ritual sekaligus simbol identitas kolektif komunal yang sangat sakral.
Jumlah peserta kirab diperkirakan mencapai 1.000 orang lebih, berjalan kaki dari Kantor Kemenag Konkep menuju pusat acara di Lapangan TPI Langara.
Kirab Budaya Dihadiri Gubernur Sulawesi Tenggara
Kemeriahan kirab budaya perdana semakin lengkap dengan kehadiran Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka.

Kemeriahan kirab budaya perdana di Konkep ini dihadiri Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka yang ikut menyaksikan iring-iringan kirab budaya. (Foto: Sultratop.com)
Enam paguyuban etnis besar yang mendiami Pulau Wawonii turut ambil bagian dalam pagelaran kirab budaya. Diantara adalah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, Kerukunan Keluarga Wawonii Tolaki, Kerukunan Keluarga Menui Wawonii, Kerukunan Keluarga Muna Wawonii, Kerukunan Keluarga Buton Wawonii, dan Kerukunan Keluarga Bajo Wawonii.
Selain paguyuban suku, barisan kirab budaya ini dimeriahkan juga oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pemerintah kecamatan, hingga instansi vertikal seperti KPU, Bawaslu, dan Kemenag, ikut ambil bagian.
Melansir dari sultratop.com, Gubernur Andi Sumangerukka memberikan sambutan dengan memberi apresiasi tinggi kepada Pemkab Konkep dan seluruh masyarakat atas terselenggaranya kegiatan bersejarah ini. Menurutnya, Konkep adalah daerah yang indah bukan hanya karena pesona alamnya, tetapi juga karena keberagaman adat istiadatnya yang wajib dilestarikan.
“Saya berharap melalui kirab budaya ini, kita dapat membangun sektor pariwisata serta memberikan ruang bagi UMKM, ekonomi kreatif, dan kuliner lokal. Hal ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Konawe Kepulauan dan Sultra pada umumnya,” ujar Andi Sumangerukka.
Gubernur juga mengajak seluruh generasi muda untuk mencintai budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Sementara Bupati Konkep, Rifqi Saifullah Razak mengatakan, kirab budaya ini merupakan upaya menjaga dan merawat identitas daerah serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya dan warisan leluhur di tengah arus modernisasi, sejalan dengan visi menuju Wawonii EMAS (Ekonomi Maju, Adil dan Sejahtera) Berkelanjutan Tahun 2030.
Masing-Masing Panguyuban Unjuk Atraksi Budaya
Tepat di depan panggung penghormatan di kawasan Lapangan TPI, masing-masing paguyuban tampil memukau dengan memamerkan pakaian adat serta mementaskan atraksi budaya terbaik.
Masih melansir sultratop.com, bahwa barisan pawai paguyuban dimulai dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), mereka menampilkan tarian daerah yang merefleksikan keberagaman suku di Sulawesi Selatan. Disusul oleh barisan dari paguyuban Kerukunan Keluarga Tolaki, lalu Kerukunan Keluarga Menui. Suasana kirab semakin semarak dengan melintasnya rombongan paguyuban Keluarga Muna. Setelah itu, giliran Paguyuban Suku Buton yang unjuk gigi memamerkan pesona budayanya.
Etnis Bajau Sukses Mencuri Perhatian Penonton
Yang paling menarik, sebagai penutup barisan paguyuban, suku Bajo sukses mencuri perhatian penonton dan para pejabat yang hadir lewat simbol-simbol kebudayaan maritimnya yang khas. Di depan gubernur dan bupati, paguyuban suku Bajau memukau penonton lewat seni tarian Ngigal yang dibawakan oleh enam orang ibu-ibu.

Barisan suku Bajau sebagai iring-iringan kirab terpanjang
Eksotisme keseharian suku Bajo yang tak bisa lepas dari alam pesisir tercermin kuat dari pakaian para peserta. Peserta laki-laki tampil gagah mengenakan sigar (penutup kepala), sementara para perempuannya mengenakan saraoh (topi anyaman pelindung dari panas matahari) serta membaluri wajah mereka dengan barra’ batu juga disebut barra tuto’ atau barra’ buas. Riasan ini merupakan bedak dingin tradisional berwarna kuning dari olahan beras dan kunyit atau temu lawak serta rempah-rempah lainnya, berfungsi sebagai sunscreen alami saat beraktivitas di laut atau di bawah sinar matahari.
- Penulis: Redaksi POSBI News

Views Today : 22
Views Last 7 days : 267
Views Last 30 days : 408
Views This Year : 861
Total views : 862
Who's Online : 1
Saat ini belum ada komentar