Presiden POSBI, Erni Bajau, Bawa Suara Masyarakat Same-Bajau di Forum Internasional UNESCO Angkat Warisan Budaya Masyarakat Bajau untuk Memori Kolektif Dunia
- account_circle Redaksi POSBI News
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Presiden Perkumpulan Orang Same Bajau Indonesia (POSBI), Erni Bajau, S.Pd., M.Hum., tampil sebagai salah satu narasumber dalam seminar internasional “The World of Water: Sea Nomads, Documentary Heritage and Memory of the World”, yang diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan 11th UNESCO Memory of the World Regional Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP) General Meeting, Selasa, 3 November 2026.
Kegiatan internasional yang berlangsung di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta, tersebut menjadi forum pertemuan para akademisi, peneliti, praktisi kearsipan, dan delegasi 23 negara kawasan Asia-Pasifik untuk membahas pelestarian warisan dokumenter dan ingatan kolektif masyarakat.
- Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Dr. Mego Pinandito, M.Eng.
- Director UNESCO Regional Office Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa
Dalam kesempatan tersebut, Erni Bajau menjadi Pembicara pada Sesi Panel III: Memory of the Sea Nomads Communities, dengan membawakan materi berjudul “A Tale from the Sea: Bajau People and Their Collective Memory” atau “Kisah dari Laut: Masyarakat Bajau dan Ingatan Kolektifnya.”
Sesi yang berlangsung pukul 15.00–16.45 WIB itu secara khusus membahas ingatan, pengalaman, dan warisan budaya komunitas pengembara laut. Kehadiran Erni Bajau memberikan perspektif masyarakat Same-Bajau Indonesia dalam percakapan internasional mengenai sejarah dan pelestarian warisan budaya maritim.
https://www.instagram.com/reel/DfQfHB5zASD/?psln=MTgzZ2VrZDI2NjJrdQ==
Dalam materinya, Erni Bajau mengangkat masyarakat Same-Bajau bukan semata-mata sebagai komunitas yang dikenal memiliki kehidupan dekat dengan laut, tetapi sebagai masyarakat yang mempunyai sejarah, identitas, bahasa, pengetahuan, tradisi, dan ingatan kolektif yang diwariskan antargenerasi.
“Bagi masyarakat Bajau, laut tidak hanya menjadi sumber penghidupan. Laut juga merupakan ruang kehidupan, ruang perjalanan, ruang interaksi sosial, sekaligus tempat tersimpannya berbagai pengalaman dan ingatan leluhur,” ungkap Erni Bajau
Lebih lanjut, Presiden POSBI mengungkapkan bahwa pengetahuan mengenai angin, arus, gelombang, pasang-surut, musim, perahu, dan lingkungan laut merupakan bagian dari kekayaan pengetahuan tradisional yang berkembang melalui pengalaman panjang masyarakat maritim.

Erni Bajau bersama Delagasi berbagai negara peserta seminar
Warisan tersebut tidak seluruhnya tersimpan dalam dokumen tertulis. Sebagian besar hidup dalam tradisi lisan, kosakata bahasa Same, cerita keluarga, praktik budaya, dan pengetahuan para tetua yang diwariskan melalui kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendokumentasian menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya masyarakat Bajau.
Partisipasi Erni Bajau sebagai Presiden POSBI dalam seminar internasional ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan perspektif masyarakat Same-Bajau Indonesia dalam pembahasan global mengenai warisan dokumenter dan memori masyarakat maritim.
Bagi POSBI, upaya tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa identitas dan warisan budaya masyarakat Same-Bajau tetap dikenal, dihargai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kehadiran Erni Bajau dalam forum internasional UNESCO MOWCAP 2026 sekaligus menjadi kesempatan untuk membawa suara masyarakat Bajau Indonesia ke ruang dialog dunia. Bahwa masyarakat Bajau bukan hanya bagian dari sejarah kehidupan laut, melainkan juga bagian dari kekayaan sejarah dan peradaban maritim dunia.

Malam Welcome Dinner di Balai Kota DKI Jakarta bersama Delegasi 23 Negara
“Pelestarian warisan budaya Bajau tidak cukup hanya dilakukan melalui penelitian akademis. Masyarakat sebagai pemilik dan pewaris kebudayaan perlu dilibatkan secara langsung dalam proses identifikasi, pendokumentasian, penyimpanan, dan pewarisan pengetahuan. Bahasa Same, cerita leluhur, tradisi lisan, pengetahuan kelautan, sejarah perjalanan antarpulau, serta dokumentasi kehidupan masyarakat merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga,” pungkas Erni Bajau.
- Penulis: Redaksi POSBI News




Saat ini belum ada komentar