Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NTT » Bupati Kupang Diduga Ancam Warga Pulau Kera Terkait Relokasi, Hingga Mengaku Dipanggil dan Ditelpon Langsung Presiden
NTT

Bupati Kupang Diduga Ancam Warga Pulau Kera Terkait Relokasi, Hingga Mengaku Dipanggil dan Ditelpon Langsung Presiden

  • account_circle Redaksi POSBI News
  • calendar_month Kamis, 17 Apr 2025
  • visibility 11
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gelombang kecemasan kini menyelimuti warga Pulau Kera. Pulau yang dihuni suku Bajau ini telah berdiri kokoh selama lebih dari seabad di wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pasalnya, Bupati Kabupaten Kupang, Yosef Lede, diduga kuat melontarkan serangkaian ancaman mengerikan, memaksa warga untuk segera angkat kaki dari Pulau Keera yang merupakan tempat hidup dan sumber penghidupan mereka sebagai nelayan.

Peristiwa yang menggemparkan warga ini diduga terjadi pada Rabu, 16 April 2025, di Desa Pantulan, Kecamatan Sulamu, saat Bupati Yosef Lede berinteraksi dengan sejumlah aparat desa.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati dengan penuh semangat menyampaikan ultimatumnya. “Beta akan bawa pasukan lima trek, Beta akan bawa eksa dan beta akan garuk sampai rata,” demikian ancaman eksplisit yang diduga dilontarkan oleh Yosef Lede, menggambarkan dengan jelas niat untuk menghancurkan rumah dan kehidupan warga suku Bajau Pulau Kera secara paksa.

Lebih lanjut, Yosef Lede mencoba melegitimasi tindakannya dengan mengklaim bahwa perintah relokasi ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Republik Indonesia terkait dengan pengambilalihan seluruh kawasan Hak Guna Usaha (HGU).

“Ini perintah langsung presiden, bukan perintah orang lain. Saya dipanggil langsung dan ditelepon langsung presiden, seluruh HGU diambil kembali,” ujarnya dengan nada terkesan otoriter.

Ia bahkan menambahkan dengan emosional, “Dan itu tanah negara, jangan halang, kalau halang orang tidak percaya, beta menangis,” seolah mencoba memanipulasi sentimen untuk memuluskan rencananya.

Ironisnya, di tengah retorika tentang perintah presiden dan tanah negara, Yosef Lede justru menunjukkan sikap intoleran dan anti-empati terhadap pihak-pihak yang mencoba memberikan dukungan kepada warga Pulau Kera. Ia secara terbuka mengecam setiap individu yang tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kabupaten Kupang dan menunjukkan solidaritas terhadap komunitas yang terancam ini.

“Yang tidak ada KTP Kupang, suruh pulang, pulang. Beta kasih tahu memang, jangan macam-macam, kalau beta sudah kasih ingat baik-baik jangan cari gara-gara,” ancamnya dengan nada diskriminatif dan mengabaikan hak asasi manusia untuk memberikan bantuan dan dukungan.

Di balik ancaman yang membekukan hati, terselip pula narasi yang mencoba menampilkan sisi “baik” dari rencana relokasi tersebut. Yosef Lede mencoba meyakinkan bahwa pemerintah daerah memiliki niat untuk menempatkan warga di lokasi dengan fasilitas yang lebih baik, sesuai dengan mata pencaharian mereka.

“Kalau masih mau urus baik-baik, dengar! Katong cari tempat yang baik, katong tau dong punya mata pencaharian model bagaimana, katong taruh di tempat fasilitas yang baik, dong punya hidup akan jadi lebih baik,” ucapnya, sebuah janji yang terasa hambar di tengah ancaman keKeerasan yang baru saja dilontarkan.

Ultimatum yang diberikan Yosef Lede sangat jelas dan tidak memberikan ruang untuk negosiasi yang setara.

“Jadi beta kasih ingat baik-baik, tiga minggu dari sekarang kalau tidak ada kesepakatan, kita sapuh sampai rata! Kalau beta su omong seperti ini, keinginannya su jelas, jelas sekali,” tegasnya, menutup rapat-rapat harapan akan dialog yang konstruktif.

Lebih lanjut, Yosef Lede bahkan mencoba merendahkan otoritas pemerintah provinsi dengan mengatakan, “Coba perintah gubernur, katong masih telan ludah, ini perintah presiden,” ucapnya menunjukkan arogansi kekuasaan dan ketidakpedulian terhadap hierarki pemerintahan daerah.

Ia kembali menegaskan tekadnya dengan ancaman implisit, “Kalau mau baik-baik, mari katong urus, kalau sonde mau nanti beta buktikan.”

Alasan formal yang dikemukakan oleh Bupati Kupang terkait relokasi ini adalah bahwa sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Pulau Keera termasuk dalam kawasan wisata dan bukan daerah permukiman.

“Beta kasih ingat saja, sonde mau dengar yah sudah,” ujarnya, seolah mengabaikan fakta bahwa warga telah hidup dan bergenerasi di pulau tersebut jauh sebelum adanya penetapan RTRW.

Sebagai langkah lebih lanjut untuk merealisasikan rencananya, Yosef Lede menyatakan akan mengirimkan surat kepada camat dan lurah untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Namun, di tengah ancaman kekerasan dan pengusiran paksa, upaya sosialisasi ini justru terasa seperti formalitas belaka, tanpa memberikan ruang yang sesungguhnya bagi partisipasi dan persetujuan warga.

Pernyataan yang paling mengkhawatirkan dan menunjukkan watak represif adalah ketika Yosef Lede secara eksplisit mengancam warga pendatang yang mencoba bersuara atau memberikan dukungan kepada warga Pulau Kera.

“Dan itu yang sonde ada KTP Kupang jangan coba-coba baomong, beta kasih turun mandi di laut sana,” ancamnya, sebuah pernyataan yang tidak hanya intimidatif tetapi juga berpotensi melanggar hak asasi manusia dan prinsip kesetaraan di depan hukum.

Tidak berhenti di situ, Yosef Lede bahkan berencana untuk turun langsung ke Pulau Keera setelah perayaan Paskah minggu depan.

Lebih jauh lagi, ia menyatakan akan berkoordinasi dengan Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) untuk mengerahkan pasukan sebanyak dua truk. Rencana pengerahan aparat militer ini semakin memperkuat kesan bahwa pemerintah daerah lebih memilih pendekatan keKeerasan dan intimidasi daripada dialog yang humanis dan solutif.

Menanggapi sikap Bupati Kupang yang terekam kamera video warga tersebut, Ketua Umum Perkumpulan Orang SameBajauIndonesia (POSBI) Erni Bajau, di Jakarta, menyesalkan sikap BKetua Umum Perkumpulan Orang SameBajauIndonesia (POSBI) Bupati.

“Kami orang Bajo seluruh Indonesia mengecam dan menyayangkan kalimat arogansi Bupati Kupang dan terkesan premanismee.Kan ada pendekatan yang lebih bijakdan lebih manusiawi dari pada kata-kata mau sapu rata warga pulau Kera”

Erni Bajau, lebih lanjut mengungkapkan bahwa ia meragukan kata-kata Yosef Lede yang mengatakan bahwa itu perintah langsung dari Presiden.

“Untuk memastikan ucapan BupatiKupang tersebut, saya dan teman-teman dari POSBI akan mengkonfirmasi kebenarannya kami akan ke Kantor Staf Kepresidenan di Istana Negara di Jakarta, kami akan mengirim surat ke Bapak Presiden dan meminta solusi untuk masyarakat Bajau Pulau Kera.”

 

  • Penulis: Redaksi POSBI News

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Remote Ready: Essential Tech Tools for the Digital Nomad

    Remote Ready: Essential Tech Tools for the Digital Nomad

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle Lili Cheng
    • visibility 312
    • 0Komentar

    As the timeline of technology perpetually accelerates, 2023 emerges as a testament to human creativity and ingenuity. The realm of gadgets is no longer restricted to mere utility; it’s about amplifying human potential and redefining boundaries. With each passing day, these handheld marvels become an even more integrated part of our daily lives, intertwining with […]

  • Iswadi Mingkung, Ketua DPD POSBI Morut, Aktif Konsolidasi dan Bentuk Pengurus, SK Definitif Diterbit DPP

    Iswadi Mingkung, Ketua DPD POSBI Morut, Aktif Konsolidasi dan Bentuk Pengurus, SK Definitif Diterbit DPP

    • calendar_month Jumat, 7 Feb 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Iswadi Mingkung, Ketua DPD POSBI Kabupaten Morowali Utara, aktif konsolidasi dan  bersilaturahmi ke berbagai pihak, termasuk bersilaturahmi ke Kepala Desa Kolo Bawah, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah Berkat keaktifan tersebut, SK Definitif Kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten Morowali Utara pun diterbitkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) POSBI Jakarta, Sabtu, (01/02/2025).   Yuk BERGABUNG […]

  • Hunger, thirst and chaos in southern Gaza as hostilities drive humanitarian aid to the brink of collapse

    Hunger, thirst and chaos in southern Gaza as hostilities drive humanitarian aid to the brink of collapse

    • calendar_month Kamis, 8 Feb 2024
    • account_circle Redaksi
    • visibility 374
    • 0Komentar

    Twelve-year-old Do’a Atef spends her days knocking on doors begging for food, or gathering firewood from a dusty hill near a refugee camp outside Rafah, in southern Gaza, to cook the few tomatoes and peppers given to her by strangers. Do’a told NBC News that she was displaced from her home in Beit Lahia in […]

  • Luka Doncic’s 32-point night helps Lakers finally win in Denver

    Luka Doncic’s 32-point night helps Lakers finally win in Denver

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2025
    • account_circle Dave McMenamin
    • visibility 43
    • 0Komentar

    DENVER — It took Luka Doncic only one quarter Saturday to match his highest scoring output from his first three games with the Los Angeles Lakers, tallying 16 points while L.A. built an early lead on the Denver Nuggets. He kept rolling from there — and so did the Lakers — as Doncic finished with a game-high 32 points […]

  • 2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

    2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

    • calendar_month Sabtu, 16 Mar 2019
    • account_circle Redaksi
    • visibility 8
    • 0Komentar

    Garut – Setelah melakukan pencarian selama dua hari, petugas Basarnas dan Polairud menemukan jasad Maulana di Pantai Cipalawah, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Jenazah pria tersebut langsung dievakuasi petugas. “Setelah melakukan pencarian selama 2 hari, Tim SAR Bandung akhirnya dapat menemukan korban. Ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” kata Humas Kantor SAR Bandung Joshua Banjarnahor via pesan […]

  • Israeli hostage freed by Hamas says ‘time is running out’ for captives as she describes harrowing conditions

    Israeli hostage freed by Hamas says ‘time is running out’ for captives as she describes harrowing conditions

    • calendar_month Minggu, 23 Feb 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 413
    • 0Komentar

    TEL AVIV — Yocheved Lifshitz, one of the first Israeli hostages released by Hamas, took the world by surprise in late October when she shook the hand of one of her captors and uttered a single word: “Shalom” — a Hebrew salutation meaning “peace.” Now, in an exclusive interview, Lifshitz said she believes peace can […]

error: Content is protected !!
expand_less